Tentang Bersyukur (lagi)..

Ilmu yang satu ini entah kapan ditemukannya. Tentu saja telah banyak literatur yang menuliskannya, di Alquran juga ada. Di buku agama lengkap dibahas. Namun untuk mendalaminya mungkin tidak perlu referensi. Hanya perlu dirasakan, dan dilakukan. Itu yang lebih penting. Bagaimana mengasah ilmu bersyukur menjadi skill. Bagaimana kita selalu merasa serba kecukupan. Pada siapa kita bersyukur? Tentunya pada sang Khalik. Dia yang menjadi sumber kebaikan dan tempat kita menitipkan segala sesuatu. 4JJI SWT.

Hari ini, secara mengejutkan, saya diingatkan lagi untuk terus mengasah skill itu.

Saya dan ibu berkesempatan menjenguk seorang wanita yang telah memiliki 3 orang anak. Dia menderita kanker. Hingga saat ini dia telah mengalami 3 kali chemo therapy. Bertahan dari satu kali chemo saja sudah luar biasa. Karena katanya rasa sakitnya luar biasa. Sebelum dan sesudah proses penyinaran harus minum obat dulu. Dan setiap meminum obat, dadanya serasa terbakar. Masya Allah. Banyak teman seangkatan beliau yang kena kanker tidak sanggup bertahan menghadapi perawatan itu.  Namun dia sanggup bertahan. Subhanallah.

Dibalik legam kulit, kepala yang plontos, dan tubuh kurus yang kadang dirasakannya lumpuh itu, dia masih tersenyum. Disisinya ada sang suami yang bekerja keras mencari biaya pengobatan. Lalu ada 3 buah hatinya yang lucu, menghadirkan canda tawa ditempat tidurnya. Sesekali air matanya mengalir, lalu si bungsu dengan polos berkata,”Mama jangan naangiisss…” Putri mungilnya itu tidak ngeh kalo ibunya bukanlah sedih namun bahagia melihat kelucuan dia. “Bunda nanti kalo bunda sembuh kita nonton ya sama uwa, terus kita jalan-jalan, beli bando.. ya..ya..” pintanya, “Iya, iya.. ayo buatkan air nak buat uwa dan si om” Dan Dia begitu nurut melayani perkataan ibundanya. “Hanya Allah dan keluargalah yang membuat saya bertahan.. telah banyak kemudahan yang Ia kasih” Ia kembali bercerita sambil berlinang air mata, “Saya masih ingin umroh.. mohon doa nya ya ceu neneng” ujarnya pada ibu saya.

Saya terharu, takjub, dan malu. Sungguh bukan peristiwa yang sehari hari saya biasa lihat. Melihat perjuangan dia, semangat hidupnya dan keberserahan dirinya pada Sang Maha Pencipta. Saya merasa tidak ada apa-apanya. Ibu Dewi, Saya mendoakan semoga ibu lekas sembuh. Kebesaran dan keteguhan hati ibu akan selalu saya kenang. Hari ini memoar tentang bersyukur kembali terpatri dalam diri saya.

Subhanallah.. Hasbunallah Wanikmal Wakil, Nikmal maula wani’mannatsirr..

gambar thanks to: this site

2 responses to this post.

  1. ah cil, kisah biasa yang luar biasa,
    nuhun ya🙂

  2. Sami2 neng celine..🙂 cu @ temu alumni nyaaa..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: